Share

[Get This]

A sample text widget

Etiam pulvinar consectetur dolor sed malesuada. Ut convallis euismod dolor nec pretium. Nunc ut tristique massa.

Nam sodales mi vitae dolor ullamcorper et vulputate enim accumsan. Morbi orci magna, tincidunt vitae molestie nec, molestie at mi. Nulla nulla lorem, suscipit in posuere in, interdum non magna.

Emosi Dalam Logika Berpikir Positif Kepemimpinan

Salah satu dari Lima langkah Strategi menanggapi pengelolaan serta pengendalian diri dalam Strategi Kecerdasan Emosional Dalam Aspek Konsensus dan Konflik adalah “Merasa Positif” dimana disaat menghadapi sesuatu yang menjadi masalah kita harus bersikap positif berarti kita melihat kemungkinan sama-sama menang, dan suatu peluang untuk memudahkan pemecahannya, kita harus belajar mempertahankan sikap optimisme, menghargai kemampuan kita, dan membantu orang lain mewujudkan kemampuan mereka dan sikap merasa positif tersebut termasuk dalam bagaimana Cara Kita didalam Pengelolaan Diri.

Falsafah Pengelolaan diri hanyalah untuk mengetahui siapakah anda, apa yang anda rasakan, apa yang anda pertahankan, dan bagaimana ingin memperlakukan diri anda sendiri. Pengelolaan diri tidak berarti anda bukan diri anda sendiri, atau bahwa anda bersikap dingin atau menjadi robot yang terkendalikan.

Pengelolaan diri adalah jembatan positif antara emosi dan logika. Kalau tidak menglola diri sendiri, ide, pandangan, atau tinjauan apa saja dapat mengakibatkan anda tidak menentu secara emosional, dan bertabiat menjengkelkan atau berperilaku yang tidak bermanfaat. Inilah sebabnya beberapa orang menghabiskan waktu untuk meminta maaf atas apa yang mereka katakan atau telah lakukan.

Pengelolaan diri sebagai salah satu bentuk disiplin Personal Mastery mewujudkan mekanisme penyaringan untuk menangani semua rangsangan yang kita terima, mengelola apa yang dimasukkan dalam diri, dan bagaimana menyampaikan informasinya. Kita juga memiliki penyaringan yang setelah memasukkan suatu masalah atau tanggapan, merasakannya, menghadapi, dan kemudian membiarkannya berlalu. Terlalu banyak masukan yang tidak perlu dapat membutakan inti dalam diri kita dan membuatnya lebih sukar untuk mencapai sipat produktif bagi keberhasilan.

Seorang Pemimpin wajib secara proaktif melatih dirinya untuk memiliki emosi yang berlogika positif. Sebab, tanpa emosi dalam logika positif pemimpin akan berada dalam ketidakpastian emosi diri.

Pemimpin yang emosinya berlogika positif pasti tidak akan menyalahkan orang lain atas ketidakmampuannya, serta tidak akan melemparkan masalah kepada orang disekitarnya. Ia pasti akan mengambil semua tanggung jawab secara utuh dan total, untuk memberikan hal-hal terbaik buat semua pihak.

Pemimpin yang bijak tahu diri untuk belajar dan berlatih agar mampu meredam semua emosi negatifnya, sehingga Ia bisa melakukan pendekatan pada semua bawahan dengan emosi positif dalam logika kerja yang saling menguntungkan.

Dengan emosi yang terkendali dalam logika berpikir positif pemimpin pasti mampu merangkul setiap bawahan, dan mendapatkan semua keunggulan yang dimiliki oleh para bawahan tersebut. Sebab, pemimpin dengan kekuatan emosi positif akan membangun etos kerja yang hebat, dalam lingkaran pengaruh kepemimpinan yang tangguh.

Dalam dunia kepemimpinan yang penuh dengan tantangan berat, pengaruh emosi dalam logika berpikir positif akan menjadi kunci sukses kepemimpinan. Pemimpin harus mulai memikirkan untuk belajar menjadi lebih sabar, lebih optimis, lebih yakin, lebih bertanggung jawab, lebih peduli pada kehidupan yang lain, dan lebih fokus pada diri sendiri. Khususnya, untuk menghapus semua benih emosi negatif di dalam diri, kemudian menggantinya dengan emosi positif dalam logika berpikir yang bijak dan profesional.

Pemimpin dengan kekuatan emosi positif pasti tahu untuk bekerja sejalan dengan visi. Ia bersama bawahannya akan fokus pada apa-apa saja yang perlu dilakukan, dan terus berjuang keras untuk mencapai tujuan. Dan Ia secara cerdas dalam pengendalian emosi diri yang tangguh, akan membantu para pengikutnya untuk menyelesaikan tugas dan tanggung jawab secara sempurna dan berkualitas tinggi. Ia akan bertindak berdasarkan pada nilai- nilai tindakan yang sesuai dengan kebijakan, sistem, dan prosedur yang ada di organisasi, dan tidak sekedar bertindak atas moods sesaat, perasaan hati sesaat, atau atas dorongan dari orang-orang disekitarnya. Ia adalah pemimpin profesional yang bijak dan cerdas secara emosi.

Pemimpin dengan kecerdasan emosi yang tangguh akan selalu bekerja dalam sistem menang-menang. Ia bersama para bawahan akan menyatu untuk mencari solusi dan kesepakatan yang saling menguntungkan untuk semua pihak. Mereka mencari solusi yang membuat organisasinya menjadi lebih berkinerja maksimal dan lebih membesar dari semua aspek bisnis yang ada.

Emosi positif yang terkendali dalam logika berpikir positif akan menampilkan empati yang tangguh. Dan, pemimpin dengan empati yang tangguh akan mendengarkan dan merangkul setiap orang dengan cinta dan kepedulian. Ia akan mencoba untuk saling memahami dan dipahami. Ia akan belajar untuk mendengarkan orang lain dengan optimal. Ia akan benar-benar fokus pada setiap percakapan dengan setiap orang, dan tidak mencoba menghakimi sebuah ide ataupun opini. Ia seorang pemimpin dengan kepribadian yang matang dan dewasa dalam setiap tindakan.

Pemimpin dengan kecerdasan emosinya akan melihat perbedaan nilai sebagai benih kreatifitas yang lebih tinggi. Ia tidak mengharapkan setiap orang untuk sepakat dengan dirinya. Ia akan membiarkan orang-orang berbeda pendapat dengan dirinya. Sebab, ia melihat perbedaan sebagai peluang baru untuk perspektif, ide dan cara menyelesaikan masalah yang ada.

Seorang Pemimpin haruslah cerdas meningkatkan semua potensi dirinya ke arah yang lebih berkualitas. Untuk itu, pemimpin harus menjadi lebih sadar-diri, meningkatkan semua sifat baik, sikap bijak, serta profesionalisme dalam semua aspek kepemimpinan. Ia harus mau membangun keseimbangan hidup dengan fokus pada fisik tubuh, intelektual diri, emosional diri, spiritual dan dimensi sosial dalam kehidupannya.

Kecerdasan pemimpin untuk menjadikan emosi positif dirinya sebagai sumber dari sikap profesionalisme, untuk mengembangkan pola hidup yang lebih segar dan lebih bersemangat, dalam gerak dan langkah kepemimpinan yang melihat kehidupan ini sebagai surga yang indah, adalah contoh dari emosi pemimpin yang berlogika positif.

Sumber : www.Leadership-Park.com dan Modul Diklat PIM “Kecerdasan Emosi” (LAN-2008)

Leave a Reply

  

  

  

twenty − 10 =