Share

[Get This]

A sample text widget

Etiam pulvinar consectetur dolor sed malesuada. Ut convallis euismod dolor nec pretium. Nunc ut tristique massa.

Nam sodales mi vitae dolor ullamcorper et vulputate enim accumsan. Morbi orci magna, tincidunt vitae molestie nec, molestie at mi. Nulla nulla lorem, suscipit in posuere in, interdum non magna.

Hati Yang Sempit dan Hati Yang Luas

Seorang guru sufi suatu ketika menyapa muridnya, yang belakangan selalu tampak murung. “Kenapa kamu selalu murung? Bukankah di dunia ini banyak yang indah? Kemana perginya wajah bersukurmu?” sang Guru bertanya. Muridnya menjawab, “Guru, akhir-akhir ini hidup saya penuh masalah yang datang seperti tidak ada habisnya. Itu yang membuat saya sulit tersenyum.”

Sang Guru tertawa terkekeh. “Begini saja,” katanya “Kamu ambil segelas air dan dua genggam garam untuk memperbaiki hatimu.” Si murid merasa heran, tapi tanpa bertanya dia pergi. Tak lama dia kembali dengan gelas dan segenggam air.

“Masukkan air ke gelas itu, lalu masukkan garam sebanyak-banyaknya,” perintah Sang Guru. Lalu, “Aduk terus minum airnya sedikit.” Semua perintah itu dilaksanakan Si murid. Sekejap saja setelah meminum air itu, wajahnya meringis. “Bagaimana rasanya?” tanya Sang Guru. “Asin, Guru! Perut saya jadi mual!” jawab Si murid. Mendengar jawaban itu dan melihat  mimik wajah muridnya Sang Guru kembali tertawa terkekeh-kekeh.

“Sekarang kamu ikuti aku,” Sang Guru berkata sambil berjalan ke telaga. “Ambil garam yang tersisa, dan tebarkan di situ,”perintahnya. Segera Si murid melaksanakan perintah itu. Sementara rasa asin di mulutnya belum hilang. Dia ingin membuang rasa asin dari mulutnya, tapi tidak berani. Dia sadar, tidak sopan meludah di hadapan guru.

“Minumlah air danau itu,” kata Sang Guru sambil berjalan mencari batu di pinggir telaga untuk diduduki. Si murid menangkupkan kedua tangannya, lalu mengambil air telaga, dan meneguknya. Ketika air telaga yang dingin dan segar mengalir di tenggorokannya, Sang Guru bertanya, “Bagaimana rasanya?” Si murid menjawab dengan sumringah, “Wuaaaahh, segeer sekali Guru..!”

Tentu saja segar, karena air telaga itu berasal dari mata air di atas bukit sana. Ketika diminum, sudah pasti air itu mampu menghilangkan rasa asin yang tersisa di mulut Si murid. “Terasa nggak, garam yang kamu tebarkan tadi?” tanya Sang Guru “Sama sekali nggak terasa,” jawab Si murid sambil kembali meneguk air telaga. Sang Guru hanya tersenyum memperhatikannya, dan membiarkan muridnya meminum air telaga sepuasnnya.

“Nak,” kata Sang Guru setelah muridnya selesai minum. “Segala masalah dalam hidup kita ibarat segenggam garam. Tidak kurang, Tidak Lebih. Banyaknya masalah dan penderitaan yang harus kita alami sepanjang hidup, sudah ditakar dan di jatah Allah. Jumlahnya tetap, tidak berkurang dan tidak bertambah. Tidak ada satupun manusia, walaupun dia seorang Nabi, yang bebas dari penderitaan dan masalah.” Si murid mendengarkan petuah gurunya dengan takzim.

“Tapi Nak,” lanjut Sang Guru, “Rasa ‘asin’ dari penderitaan hidup sangat tergantung dari luasnya hati kita yang menampungnya. Jadi supaya tidak merasa menderita, maka berhentilah menjadi gelas. Jadikan hati di dalam dada kita seluas telaga, agar kita bisa menikmati hidup.”

Dari Cerita diatas memberikan pelajaran kepada kita bahwa pada hakekatnya masalah yang datang kepada kita sangat tergantung seberapa luas hati kita bukan seberapa berat masalah yang kita hadapi. Sumber dari segala masalah yang tak kunjung tuntas atau bahkan masalah yang ada semakin membesar itu karena hati kita yang sempit. Sempit sesempit Gelas.

Hati yang sempit bisa berada dalam diri siapapun dan kapanpun. Didalam kehidupan keluarga, sempitnya hati ditunjukkan oleh perilaku seorang suami/isteri yang selalu menuntut hak dan menghitung-hitung kebaikan yang sudah diberikan kepada keluarganya. Akibatnya dirumah sering muncul konflik, yang bisa jadi secara perlahan akan membuat masing-masing merasa lelah menghadapi perilaku pasangan hidupnya. Ujungnya bisa ditebak. Hati yang sempit bisa menjadi penyebab awal terjadinya Perceraian.

Di dalam kehidupan di kantor, hati yang menyempit bisa terjadi ketika Anda gagal dipromosikan, batal naik jabatan, pekerjaan tidak dihargai, atasan menegur dengan keras, rekan kerja sombong dan lain-lain. Ketika hati menyempit, boleh jadi Anda akan lebih mudah marah, sering mengeluh, bekerja asal-asalan dan melakukan hal-hal negatif. Ketika itu terjadi, bisa jadi muncul masalah baru. Misalnya; Anda konflik dengan atasan, bahkan mungkin akhirnya Anda dipecat.

Sebetulnya di dalam hidup ini, ada sesuatu yang bisa dikontrol dan yang tidak bisa di kontrol. Masalah hidup tidak bisa di kontrol, karena selain datang tiba-tiba, juga bisa muncul dari mana saja. Terkena musibah, kecelakaan, mendapat atasan yang selalu menyulitkan, terkena PHK, dan sebagainya. Itu semua datangnya tidak bisa di kontrol dan ditolak. Kita hanya bisa menerima saja.

Meskipun begitu, ada sesuatu yang tetap bisa kita kontrol, yaitu KONDISI HATI. Kontrol diri dengan meluaskan hati, pada saat terkena musibah. Lakukan itu dengan hati, karena dengan meluaskan hati adalah pekerjaan hati, bukan pekerjaan fisik atau fikiran Anda. Sekedar mengingatkan, bahwa kita diberi aset yang sama oleh Sang Pencipta; aset fisik atau metafisik, aset kecerdasan dan aset hati.

Untuk memperluas hati dapat kita lakukan yaitu, nikmati masalah. Apaila Anda sering menikmati masalah hidup, maka jalan menuju kehidupan Sukses sudah terbuka lebar.

Masalah kok dinikmati? Benar, karena hidup adalah Rangkaian Masalah. Kita tidak perlu mencari masalah, karena masalah akan datang dengan sendirinya. Apapun yang kita lakukan pasti akan mendatangkan masalah. Anda berbisnis pasti akan menghadapi masalah. Berdiam diri di rumahpun, pasti dihampiri masalah. 

Ketika punya pimpinan yang sangat visioner, Anda bisa kedodoran mengikutinya dan itu berarti masalah bagi anda. Sebaliknya ketika Pemimpin Anda kurang cerdas, bisa jadi masalahnya menjadi lebih besar dan berat, karena mungkin gerak perusahaan berjalan lambat dan tidak bisa mengikuti perkembangan dengan cepat.

Masalah memang tidak ubahnya darah di dalam tubuh manusia, selalu mengalir selama jantung masih berdetak. “Masalah hidup akan hilang bersama hilangnya kita di muka bumi.” Bila tidak ingin kehidupan Anda tidak dihampiri masalah, lebih baik tidur saja di dalam tanah.

JADI KENAPA HARUS LARI? Nikmati saja masalah.

Sumber : Dari buku DNA Sukses Mulia, Karangan “Rarid Poniman, Indrawan Nugroho dan Jamil Azzaini”

Leave a Reply

  

  

  

18 − 12 =